Follow on Facebook

Senin, 13 Juni 2011

PRODUK HASIL PELATIHAN KERAJINAN PANDAN DENGAN PT. RIM CAPITAL

Pandan duri dan bemban (jenis tanaman yg tumbuh di rawa-rawa) adalah jenis tanaman yang banyak ditemukan di kalimantan tengah, khususnya di sekitar desa Banua usang kec. Danau Sembuluh, kab. Seruyan Raya. Kedua tanaman tersebut merupakan tanaman yang sangat berguna sebagai bahan dasar untuk membuat barang-barang fungsional untuk kebutuhan rumah tangga, di antaranya tikar, jalung, bakul, dll.
Kemampuan mengayam didapatkan masyarakat setempat secara turun menurun. Adapun motif-motif ini merupakan motif tradisional yang merupakan hasil dari daya cipta si pembuat.
Desa Banua Usang bisa dikatakan memiliki ketersediaan sumber bahan baku yang melimpah, ditambah lagi masyarakatnya pun sudah terbiasa menganyam pandan dan bemban. Namun sayang potensi ini belum dapat dioptimalkan secara baik. Aplikasi bentuk produk yang minim inovasi dan sarana transportasi yang bisa dikatakan sulit mungkin menjadi penyebab kurang dioptimalkannya potensi ini.
Untuk itulah PT RIM Capital (salah satu perusahaan milik Agro Group) melaksanakan pelatihan kerajinan pandan yang dilaksanakan selama 5 hari (13-17 Desember 2010) bertempat di desa Banua Usang, kec. Danau sembuluh, kab. Seruyan Raya, Propinsi Kalimantan Tengah.
Pelatihan ini berorientasi pada pengembangan model dan desain. Peserta diberikan wawasan mengenai bentuk dan model lain yang bisa diaplikasikan pada anyaman pandan dan bemban yang sudah dibuat masyarakat selama ini. karena pada dasarnya inti sebuah produk itu terletak pada ide, kreasi dan inovasi.
Komposisi materi pelatihan berupa pemberian wawasan dan praktek, dengan didampingi 3 orang instruktur kami. Pada hari pertama peserta diberikan kebebasan membuat produk kerajinan, tujuannya untuk memberikan pancingan ide sekaligus mengetahui tingkat kemampuan masing-masing peserta. Hari kedua & ketiga peserta diajarkan membuat tas dengan teknik pilinan (plintir). Hari keempat praktek membuat sandal yang bentuk dan ukurannya sudah ditentukan dan hari kelima praktek membuat sendal dengan pengembangan bentuk dan desain dari peserta sendiri.
“kami punya harapan besar setelah pelatihan ini peserta mempunyai wawasan baru dalam mengolah pandan dan bemban yang melimpah di desa ini, dan pada saatnya dapat meningkatkan kapasitas ekonomi keluarga,” ujar Rufly Iman M (CSR Assistant PT RIM Capital).
Menurut Manajer CSR Agro group Azwar Hamid, SH “kegiatan ini ditujukan untuk pemanfaatan sumber daya alam yang ada di sekitar desa. Selain itu kegiatan ini merupakan bentuk dukungan perusahaan terhadap pemberdayaan masyarakat di sekitar lokasi PT RIM Capital”. Terimakasih
untuk informasi kerjasama pelatihan dapat menghubungi kami di Nomor Telp. 0274-9493707, mwharcis@yahoo.co.id

PRODUK HASIL PELATIHAN KERAJINAN ECENG GONDOK

Eceng gondok atau enceng gondok (Latin:Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe. Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil. Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.

Dampak Negatif
Akibat-akibat negatif yang ditimbulkan eceng gondok antara lain:
• Meningkatnya evapotranspirasi (pengupan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat.
• Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens).
• Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan.
• Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.
• Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia.
• Menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.
Penanggulangan & pemanfaatan
Karena eceng gondok dianggap sebagai gulma yang mengganggu maka berbagai cara dilakukan untuk menanggulanginya. Tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mengatasinya antara lain: Menggunakan herbisida, Mengangkat eceng gondok tersebut secara langsung dari lingkungan perairan, Menggunakan predator (hewan sebagai pemakan eceng gondok), salah satunya adalah dengan menggunakan ikan grass carp (Ctenopharyngodon idella) atau ikan koan. Ikan grass carp memakan akar eceng gondok, sehingga keseimbangan gulma di permukaan air hilang, daunnya menyentuh permukaan air sehingga terjadi dekomposisi dan kemudian dimakan ikan. Cara ini pernah dilakukan di danau Kerinci dan berhasil mengatasi eceng gondok di danau tersebut, memanfaatkan eceng gondok tersebut, misalnya sebagai bahan pembuatan kertas, kompos, biogas, perabotan, kerajinan tangan.Beberapa tahun belakangan para pelaku usaha kerajinan mulai mengembangkan eceng gondok menjadi produk yang lebih kreatif. Bahkan tidak ragu-ragu lagi untuk mengkombinasikannya dengan bahan lain seperti kain, kayu dan kulit. Istilah yang lazim digunakan untuk produk kombinasi adalah “pecah model”.
Emie (pelaku usaha & instruktur kerajinan di Jogja) menuturkan, “kerajinan itu tanpa batas, bahan apapun bisa digabungkan, semakin unik maka semakin mudah laku dipasaran”.
untuk informasi pelatihan silakan menghubungi kami di Telp. 0274  9493707, mwharcis@yahoo.co.id